Golkar Sumut Didorong Solid Dukung Bobby Nasution

Hendriyanto Dinilai Figur Ideal Pimpin Golkar Sumut

Golkar Sumut Didorong Solid Dukung Bobby Nasution
Ketua DPC Ormas MKGR Deli Serdang Gandhy Panigoro, S.AB, bersama H. Wagirin Arman, S.Sos, Sesepuh Partai Golkar Sumut dan Sesepuh Ormas MKGR Sumut.

LINTASTIMURMEDIA.COM - DELI SERDANG - Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sumatera Utara, berbagai elemen kader partai mulai menyuarakan pandangan strategis mengenai arah baru kepemimpinan. Salah satu suara penting datang dari Ketua DPC Ormas MKGR Kabupaten Deli Serdang, Gandhy Panigoro, yang menekankan pentingnya keseimbangan politik, loyalitas kader, serta kedewasaan dalam menentukan sosok pemimpin DPD Golkar Sumut ke depan.

Gandhy menyatakan bahwa Musda Golkar Sumut 2025 bukan sekadar agenda internal partai, melainkan momentum strategis untuk memperkuat posisi Partai Golkar sebagai pilar utama pembangunan daerah. Menurutnya, Golkar harus tampil sebagai kekuatan politik yang loyal dalam mendukung dan mengamankan kebijakan strategis Gubernur Sumatera Utara, M. Bobby Afif Nasution, demi kemajuan daerah dan kesejahteraan rakyat.

“Pemerintahan Gubernur Bobby adalah simbol dari semangat perubahan dan percepatan pembangunan di Sumatera Utara. Dalam konteks itu, DPD Golkar Sumut harus menjadi mitra strategis, bukan sekadar pengamat apalagi oposisi internal. Kita harus menjadi bagian dari solusi,” ujar Gandhy.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kepemimpinan Golkar ke depan harus diemban oleh sosok yang tidak hanya paham peta politik lokal, tetapi juga memiliki sensitivitas terhadap arah pembangunan yang sedang dijalankan Pemerintah Provinsi.

“Ini bukan sekadar soal regenerasi dalam tubuh partai, tapi soal tanggung jawab moral terhadap arah pembangunan Sumut ke depan,” tegasnya.

Ia juga menggarisbawahi pentingnya memilih pemimpin DPD Partai Golkar Sumut yang mampu menjembatani dinamika lokal dengan kebijakan nasional. Gandhy menekankan bahwa prinsip PDLT (Prestasi, Dedikasi, Loyalitas, dan Tidak Tercela) harus menjadi ukuran utama dalam menilai kelayakan calon pemimpin partai.

“Pemimpin Golkar ke depan tidak boleh hanya kuat secara struktur organisasi, tapi juga matang secara politik dan loyal terhadap garis perjuangan partai, bukan terhadap afiliasi personal atau kepentingan sesaat,” ujarnya lagi.

Dalam konteks ini, Gandhy menyebut nama Hendriyanto Sitorus, Ketua DPD Golkar Labuhanbatu Utara sekaligus Bupati aktif, sebagai sosok potensial yang mampu membawa Golkar Sumut bersinergi dengan kepemimpinan Gubernur Bobby Nasution.

Ia menilai, deklarasi terbuka DPD Golkar Labura dalam mendukung Hendriyanto adalah indikasi bahwa kesadaran politik di akar rumput semakin matang dalam membaca kebutuhan politik dan arah kepemimpinan Sumut.

“Ini bukan sekadar soal siapa yang didukung, tapi siapa yang mampu menjaga marwah partai dan menempatkan Golkar dalam barisan perubahan yang dibawa oleh pemerintahan saat ini,” tambahnya.

Sebagai Ketua Ormas MKGR Deli Serdang, Gandhy juga menyampaikan kritik terhadap tidak diakomodirnya MKGR dalam struktur DPD Golkar Kabupaten saat ini. Ia menyebut, hal tersebut merupakan preseden negatif yang belum pernah terjadi dalam sejarah politik lokal Golkar di Deli Serdang.

“MKGR adalah organisasi yang justru melahirkan Partai Golkar. Ketika MKGR tidak diakomodir dalam struktur resmi, itu mencerminkan adanya penyimpangan dari semangat kolektif dan nilai kekaryaan yang menjadi fondasi partai,” ujarnya tegas.

Ia berharap agar Musda Golkar Sumut 2025 menjadi forum kontestasi yang sehat, terbuka, dan bermartabat. Menurutnya, sudah saatnya Golkar kembali ke khitah sebagai partai kader, partai rakyat, dan partai pembangunan yang nyata berpihak pada kemajuan daerah.

“Musda ini adalah momentum emas untuk menyatukan barisan. Golkar harus hadir sebagai perekat, bukan pemecah. Bukan untuk berseberangan dengan pemerintah daerah, tapi bersinergi dalam memperkuat arah perubahan yang dicanangkan Gubernur Bobby Nasution,” pungkas Gandhy.