Mengapa Hidayah Lebih Berharga dari Segala Kemewahan Dunia
Temukan makna mendalam mengapa hidayah dalam Islam begitu mahal dan tak ternilai. Dijelaskan dengan dalil Al-Qur’an, hadis, dan kisah ulama, artikel ini mengajak kita merenungi pentingnya memohon petunjuk Allah setiap hari.
Mengapa Hidayah Itu Terlalu Mahal untuk Dibeli?
Oleh: Dr. Abdul Haque Albantanie (DR AHA)
Edisi Spesial Jumat Berkah – LINTASTIMURMEDIA.COM – PEKANBARU, Jumat 13 Juni 2025
Hidayah adalah anugerah terbesar dalam hidup manusia. Ia bukan sekadar petunjuk jalan kebenaran, melainkan cahaya Ilahi yang menerangi hati, menuntun akal, dan membimbing langkah menuju ridha Allah. Namun, mengapa hidayah dalam Islam begitu mahal dan tak ternilai harganya? Tidak bisa dibeli dengan harta, tidak bisa diwarisi oleh keturunan, dan tidak bisa diraih hanya dengan kecerdasan semata.
Di tengah kehidupan modern yang serba materialistik, makna hidayah semakin terabaikan. Padahal, dalam perspektif Islam, hidayah adalah jalan keselamatan dunia dan akhirat yang hanya bisa diperoleh melalui kasih sayang dan kehendak Allah. Berikut tiga alasan utama mengapa hidayah itu mahal dan sangat layak diperjuangkan, lengkap dengan dalil, analogi, dan pesan spiritual yang mendalam.
1. Hidayah adalah Hak Prerogatif Allah SWT
Allah Ta'ala telah menegaskan dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya kamu (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.”
(QS. Al-Qashash: 56)
Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia pilihan, maksum, dan penuh kasih, tidak bisa memberikan hidayah kepada pamannya sendiri, Abu Thalib, yang wafat dalam keadaan belum mengucap dua kalimat syahadat. Ini menjadi bukti bahwa hidayah adalah hak eksklusif Allah, bukan hasil kerja siapa pun, sekalipun ia adalah Nabi.
Analoginya, bayangkan seorang guru besar matematika ternama ingin mengajarkan ilmunya kepada anaknya sendiri. Ia sediakan semua fasilitas: buku, alat peraga, hingga bimbingan intensif. Tapi jika sang anak menolak, dan hatinya tertutup, maka semua upaya itu tidak akan berbuah hasil. Begitulah hidayah—ia tidak tergantung pada siapa yang menyampaikan, tetapi kepada siapa yang dibukakan pintu pemahaman oleh Allah SWT.
2. Hidayah Lebih Berharga daripada Unta Merah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah kepada seseorang melalui dirimu lebih baik bagimu daripada unta merah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Unta merah pada masa itu adalah lambang kemewahan dan kekayaan tingkat tinggi—sepadan dengan mobil super mewah, properti elit, atau saham miliaran rupiah di era kini. Maka siapa yang mendapat hidayah, atau menjadi jalan bagi datangnya hidayah orang lain, telah mendapatkan sesuatu yang nilainya melebihi semua kekayaan dunia.
Pikirkanlah: berapa banyak orang kaya raya tapi hidupnya hampa, cemas, dan gelisah? Banyak yang memiliki rumah besar, tapi hatinya sempit. Banyak yang punya mobil mewah, tapi jiwanya kacau. Karena ketenangan jiwa adalah buah dari hidayah, bukan dari kemewahan dunia.
Hidayah adalah GPS ruhani, yang mengarahkan langkah kita menuju ridha Allah, dan menjauhkan dari kesesatan dunia. Tanpa hidayah, secanggih apa pun teknologi, sekuat apa pun ekonomi, tetap akan tersesat dalam gelapnya zaman.
3. Imam Syafi’i Rela Membeli Hidayah Jika Bisa
Imam Syafi’i rahimahullah berkata:
“Seandainya hidayah itu bisa dibeli, maka aku akan membeli dan membagikannya berkeranjang-keranjang kepada manusia.”
Pernyataan ini menunjukkan betapa ulama besar seperti beliau sangat memahami nilai strategis dan spiritual dari hidayah Allah. Dua hal yang bisa kita petik dari ucapan ini:
-
Hidayah adalah aset paling berharga melebihi apapun di dunia.
-
Hidayah tidak bisa dimassalkan seperti barang dagangan, karena ia bersumber dari langit—murni karunia Allah kepada hamba yang dikehendaki.
Bayangkan jika Anda menemukan obat yang bisa menyembuhkan penyakit hati—dari iri, sombong, dengki, sampai kekufuran. Bukankah Anda ingin membagikannya kepada seluruh manusia? Sayangnya, hidayah bukanlah obat apotek yang bisa dibeli. Ia adalah cahaya suci yang hanya akan masuk ke dalam hati yang bersih, lapang, dan siap menerima kebenaran.
Carilah Hidayah Seperti Mencari Nafas
Hidayah tidak datang begitu saja. Ia bukan warisan, bukan barang koleksi, dan tidak bisa direkayasa. Tapi ia bisa diminta, dicari, dan diperjuangkan.
Rasulullah ﷺ, meskipun beliau maksum, tetap setiap hari memohon hidayah. Doa beliau:
“Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak yang terbaik. Tidak ada yang bisa menunjukkan kepada yang terbaik kecuali Engkau.”
(HR. Muslim)
Ini menjadi pelajaran penting: bahwa meminta hidayah adalah bagian dari ibadah yang terus menerus. Mintalah dalam sujud, di sepertiga malam, di hari Jumat, dan setiap selesai salat. Jangan pernah lelah meminta karena hanya dengan hidayah, hidup kita bisa berada di jalan yang lurus—Shiratal Mustaqim.
Kesimpulan: Hidayah adalah Investasi Abadi
Jika Anda diberi satu kesempatan untuk meminta apa pun, mintalah hidayah dan istiqamah. Karena dengan hidayah, semua kebaikan akan mengikuti. Tanpa hidayah, seluruh nikmat dunia hanyalah fatamorgana.
Semoga Jumat ini menjadi momen kebangkitan ruhani. Mari kita jadikan doa meminta hidayah sebagai rutinitas hidup. Semoga kita semua termasuk dalam golongan yang diberi cahaya, dituntun oleh Allah, dan selamat hingga ke akhirat.
DR AHA
(Dr. Abdul Haque Albantanie)
Penulis, pendidik, dan pembina spiritual. Kolumnis tetap Lintastimurmedia.com untuk rubrik pencerahan Islam kontemporer.





















