Hizbullah Tahan Diri, Iran-Israel Memanas
Hizbullah memilih menahan diri di tengah konflik Iran-Israel, menandai perubahan strategi besar. Pengaruh politik dalam negeri Lebanon dan tekanan internasional jadi faktor kunci di balik sikap ini.
LINTASTIMURMEDIA.COM – TIMUR TENGAH – Dalam eskalasi terbaru konflik kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Israel, sikap Hizbullah yang menahan diri dari aksi balasan mengisyaratkan pergeseran besar dalam lanskap kekuatan geopolitik regional.
Kelompok bersenjata asal Lebanon yang selama ini dikenal sebagai sekutu paling loyal dan agresif terhadap Iran, kini memilih langkah berbeda. Meski menghadapi kehilangan besar seperti terbunuhnya sejumlah komandan senior dan hancurnya infrastruktur militer selama 18 bulan terakhir, Hizbullah tetap tidak membalas serangan Israel. Pilihan ini dinilai sebagai bentuk penyesuaian strategi yang lebih didorong kalkulasi politik nasional ketimbang semangat ideologis belaka, seperti dilaporkan oleh The New Arab.
Konflik antara Iran dan Israel semakin memanas setelah serangan udara Israel pada Jumat dini hari yang ditujukan ke fasilitas nuklir Iran dan sejumlah tokoh penting terkait program tersebut. Ini menandai fase baru, ketika serangan tidak lagi dilakukan secara tidak langsung melalui kelompok proksi, tetapi menghantam langsung jantung pertahanan Iran.
Ketika Hizbullah Menahan Diri, Pemerintah Lebanon Ambil Peran
Di tengah situasi saling kirim rudal antara Iran dan Israel, sorotan publik internasional mengarah ke Hizbullah, sekutu utama Iran yang bermarkas di Lebanon. Namun, dalam konteks yang kini berbeda, dengan wilayah selatan Lebanon berada dalam kontrol aktif pemerintah nasional, seorang pejabat Hizbullah menyampaikan kepada Reuters bahwa pihaknya tidak akan mengambil langkah sepihak menyerang Israel.
Purnawirawan Brigadir Jenderal Yaareb Sakher menilai keputusan Hizbullah sebagai bentuk “pragmatisme strategis.”
“Jika Hizbullah bertindak sekarang, maka Lebanon akan masuk ke dalam perang besar-besaran,” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa Israel telah menyatakan tidak akan ada satu pun titik di Lebanon yang aman jika terjadi konflik langsung.
Menurut Sakher, Hizbullah kini lebih mengedepankan posisi politiknya yang strategis, mengingat pengaruh mereka dalam pemerintahan Lebanon melalui berbagai jabatan menteri dan kontrol administratif.
“Memulai perang saat ini hanya akan menggugurkan legitimasi politik mereka. Bahkan publik Lebanon bisa menolak keberadaan mereka, dan negara akan terpaksa mengambil langkah tegas, termasuk pelucutan senjata Hizbullah sebelum menyentuh kelompok Palestina sekalipun,” tegasnya.
Pasca Gencatan Senjata: Dampak Strategis dan Perubahan Arah Hizbullah
Ketegangan yang meletus sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober lalu telah membawa dampak luas terhadap poros “Perlawanan” yang dipimpin Iran. Dalam lebih dari satu tahun terakhir, kekuatan Hizbullah tampak melemah secara signifikan.
Menjelang kesepakatan gencatan senjata pada Januari, Israel dilaporkan berhasil menghabisi sejumlah tokoh penting Hizbullah, termasuk Sekjen Hassan Nasrallah. Selain itu, pangkalan militer al-Bijar dihancurkan, dan infrastruktur pertahanan Hizbullah di Lebanon selatan porak-poranda.
Sebagai bagian dari perjanjian damai tersebut, Hizbullah menyerahkan sejumlah besar persenjataan dan pos militer di selatan Sungai Litani kepada Angkatan Darat Lebanon. Data UNIFIL mencatat sekitar 500 gudang senjata telah dialihkan ke kendali negara.
Analis politik Mohammad Hamiyeh menilai bahwa hal ini menunjukkan pergeseran besar dalam orientasi Hizbullah.
“Kita memasuki babak baru,” ujarnya. “Kini negara Lebanon kembali menjadi aktor utama dalam menjaga stabilitas, dan Hizbullah beroperasi di bawah bayang-bayang negara.”
Ia menyebut Hizbullah telah menunjukkan kepatuhan terhadap Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, dengan menyerahkan sekitar 90 persen persenjataan mereka di wilayah selatan Litani.
Lebih jauh, Hamiyeh menekankan bahwa kelompok ini juga sedang mengevaluasi ulang perannya di tingkat regional, terutama setelah melemahnya dukungan dari Suriah — sekutu logistik utama yang kini berada dalam tekanan akibat konflik internal.
“Hizbullah tampaknya tengah merekonstruksi pendekatan politik dan militernya untuk menyesuaikan dengan realitas geopolitik baru di kawasan,” ungkapnya.
Strategi Bertahan, Gema Kekecewaan, dan Keraguan Basis Pendukung
Meskipun tidak secara resmi menyatakan pelucutan senjata, Hizbullah kini lebih memilih membangun citra sebagai mitra pertahanan nasional yang bekerja di bawah kerangka negara Lebanon. Bahkan ketika Israel melanggar kesepakatan gencatan senjata melalui serangan udara di Beirut selatan, Hizbullah tetap tidak membalas.
“Kalau saat itu tidak bertindak, sekarang pun kecil kemungkinan akan bereaksi atas serangan terhadap Iran,” tambah Hamiyeh.
Sementara itu, analis politik Alain Sarkis mengatakan bahwa Israel secara sistematis menargetkan seluruh sekutu Iran — mulai dari Hamas, Houthi, hingga Hizbullah — sebelum akhirnya menyerang langsung ke Teheran.
Ia memperingatkan bahwa jika Hizbullah terlibat dalam konflik ini, Lebanon akan terjun dalam perang besar yang tak siap mereka hadapi.
“Pesan dari Washington dan sejumlah ibu kota Eropa sudah jelas: jika Hizbullah ikut campur, maka akan ada invasi darat dan udara yang dapat menjangkau Beirut hingga Lembah Bekaa,” ungkapnya.
Retorika Kosong dan Peralihan ke Diplomasi: Akhir Peran Militer Hizbullah?
Georges Akouri, analis politik Timur Tengah, menilai bahwa serangan langsung Israel ke Iran adalah akibat dari kegagalan diplomasi dan meningkatnya ketegangan yang tidak terkendali.
Ia menyatakan bahwa Hizbullah tidak membalas bukan karena pilihan politik, tapi karena “tidak mampu.”
“Peran Hizbullah sebagai kekuatan militer regional de facto sudah berakhir,” tegasnya. “Retorika yang dulu membakar kini terbukti hanya menjadi slogan kosong.”
Akouri menyinggung perubahan sikap Hizbullah yang sebelumnya menolak untuk mundur dari selatan Litani, namun kini secara sukarela menyerahkan kendali wilayah tersebut. Ia juga menyoroti bahwa jika ada serangan roket dari Lebanon, Hizbullah kemungkinan akan menyangkal keterlibatan mereka.
“Dukungan Iran pun terbatas hanya pada retorika. Tidak ada intervensi nyata,” jelasnya.
Akouri juga mengutip pernyataan anggota parlemen Hizbullah, Hassan Fadlallah, yang menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik — sebuah sinyal kuat bahwa Hizbullah kini lebih memilih pendekatan politik dibanding konfrontasi bersenjata.
“Di balik semangat perlawanan yang selama ini dikibarkan, masyarakat pendukung Hizbullah mulai sadar bahwa banyak slogan yang mereka yakini ternyata rapuh seperti sarang laba-laba,” pungkasnya.





















