Karmila Sari, Legislator Perempuan Riau yang Konsisten Perjuangkan Pendidikan & Gender
Dr. Hj. Karmila Sari, Anggota DPR RI Dapil Riau 1, perjuangkan pendidikan dan pemberdayaan perempuan lewat politik, olahraga, dan kebijakan pro-gender.
LINTASTIMURMEDIA.COM - PEKANBARU — Topik Publik Com – Sosok perempuan tangguh asal Rokan Hilir, Dr. Hj. Karmila Sari, S.Kom., M.M., kembali mencuri perhatian publik lewat kiprahnya di dunia politik nasional. Terpilih sebagai Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Riau 1 pada Pemilu 2024, Karmila Sari hadir bukan hanya sebagai politisi, tetapi sebagai representasi perempuan Riau yang konsisten memperjuangkan kemajuan daerah dan pemberdayaan perempuan.
Perjalanan politik Karmila Sari dimulai dari tingkat lokal saat menjabat sebagai Anggota DPRD Kabupaten Rokan Hilir periode 2009–2014. Rekam jejaknya berlanjut ke panggung provinsi, di mana ia dipercaya duduk sebagai Anggota DPRD Provinsi Riau selama dua periode berturut-turut, 2014–2019 dan 2019–2024. Konsistensi, integritas, dan kerja nyata membawa dirinya melaju ke Senayan sebagai wakil rakyat dari Partai Golkar, dengan perolehan suara mencapai 89.835, angka fantastis yang menegaskan besarnya dukungan masyarakat Riau.
Dalam perbincangan eksklusif bersama host CNN Indonesia, Angun Oktarini, dalam program Perempuan Parlemen, Karmila Sari membeberkan motivasi awalnya menekuni dunia politik. “Motivasi saya sangat sederhana: saya ingin kampung halaman dan daerah saya maju dan berkembang,” ujarnya mantap.
Kini, ia dipercaya duduk di Komisi X DPR RI, yang membidangi pendidikan, olahraga, dan pariwisata. Penugasan ini sejalan dengan kiprah panjangnya di Komisi V DPRD Riau, yang juga fokus pada sektor pendidikan dan kepemudaan. Bagi Karmila Sari, pendidikan adalah fondasi utama pembangunan, dan peran perempuan sebagai pendidik pertama sangat krusial. “Kalau ibunya bagus, pasti mendidik anak jadi lebih hebat,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya perempuan sebagai “sekolah pertama bagi anak-anak”, dan meyakini perempuan cerdas akan melahirkan generasi yang unggul. “Ibu harus lebih pintar karena waktu dan tanggung jawabnya lebih besar dalam keluarga,” tambahnya.
Tidak berhenti di pendidikan formal, Karmila Sari aktif mengkampanyekan pemberdayaan perempuan (women empowerment). Baginya, perempuan yang diberdayakan akan menjadi tulang punggung pembangunan bangsa. “Perempuan itu kalau diberi kesempatan, mereka akan menunjukkan tanggung jawab dan performa terbaik,” jelasnya.
Dalam perjalanannya sebagai politisi, Karmila Sari menjadikan kedua orang tuanya sebagai inspirasi, khususnya sang ayah yang aktif di balik layar dunia politik. “Ayah saya adalah motivator utama saya. Meski tak tampil di depan, semangat beliau sangat menggugah saya,” ungkapnya.
Sebagai mantan Ketua Pansus Gender di DPRD Riau, Karmila Sari pernah sukses mendorong kebijakan yang mengharuskan adanya alokasi minimal 30 persen program pemberdayaan gender di setiap dinas. Ia menilai bahwa saat ini sudah semakin banyak perempuan Riau yang diberi ruang untuk berkiprah di bidang pemerintahan dan kepemimpinan. “Sekarang kita lihat sudah banyak perempuan yang diberi tanggung jawab jabatan. Ini progres yang sangat positif,” paparnya.
Di luar aktivitas parlemen, Karmila juga menunjukkan komitmennya pada pembinaan generasi muda. Melalui KS Putra-Putri, tim futsal perempuan yang ia bentuk, ia mendorong pengembangan bakat olahraga anak muda Riau, khususnya perempuan. Langkah ini dilandasi oleh pengalamannya di Komisi V DPRD Riau yang membidangi kepemudaan dan olahraga.
“Kalau kita lihat, perkembangan atlet perempuan sangat pesat, bahkan di tingkat nasional. Saya ingin hadir untuk mendukung potensi itu agar tidak hilang begitu saja,” ujarnya. Ia percaya bahwa olahraga bukan hanya soal fisik, tapi juga tentang membentuk karakter, kemandirian, dan kepercayaan diri perempuan.
Menurutnya, perempuan yang aktif dan percaya diri akan lebih mampu menjaga diri, lebih terlindungi dari kekerasan, dan lebih dihargai. “Kalau perempuan punya harga diri dan pengakuan, maka risiko kekerasan seperti KDRT dan pelecehan seksual bisa diminimalisir,” tegasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa perjuangan kesetaraan gender bukanlah untuk menggeser dominasi laki-laki, melainkan untuk menyeimbangkan peran antara pria dan wanita dalam pembangunan. “Tujuan kita bukan menjadi lebih dominan, tetapi menyetarakan. Bahwa kita punya peran yang sama pentingnya,” pungkasnya.
Kisah inspiratif Karmila Sari mencerminkan bahwa perempuan Indonesia, khususnya dari Riau, dapat berdiri sejajar dan memainkan peran sentral dalam membangun bangsa. Melalui politik, pendidikan, dan olahraga, ia menjadi contoh nyata bahwa keberanian, konsistensi, dan dedikasi adalah kunci utama bagi perempuan dalam mewujudkan perubahan.





















