Pekan Budaya Melayu Serumpun 2025 di Riau Dapat Apresiasi Tinggi
Pekan Budaya Melayu Serumpun 2025 di Riau sukses besar, mendapat pujian dari akademisi dan pengamat pendidikan. Acara ini memperkuat identitas budaya dan integrasi nilai Melayu dalam pendidikan formal.
LINTASTIMURMEDIA.COM - PEKANBARU – Pekan Budaya Melayu Serumpun Tahun 2025 di Riau berhasil mendapatkan apresiasi luar biasa dari berbagai kalangan, terutama pengamat pendidikan dan akademisi terkemuka di perguruan tinggi swasta Riau, Assoc Prof Dr Reno Renaldi M Kes. Ia secara khusus menyampaikan ucapan selamat dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Gubernur Riau, Abdul Wahid, beserta jajaran Pemprov Riau, Dinas Pariwisata, serta seluruh instansi dan komunitas terkait yang telah sukses menyelenggarakan acara Keduri Riau: Pekan Budaya Melayu Serumpun 2025.
Menurut Reno, Pekan Budaya Melayu Serumpun adalah sebuah kolaborasi besar lintas sektor yang menyatukan para pelaku seni, budayawan, pendidik, serta masyarakat dari berbagai daerah serumpun Melayu. Acara ini bukan hanya menjadi ajang hiburan, melainkan juga sebuah laboratorium pembelajaran hidup yang kaya makna, berperan penting dalam membentuk karakter, kreativitas, serta menumbuhkan rasa kebanggaan terhadap identitas budaya bagi generasi muda.
“Pekan Budaya Melayu Serumpun bukan sekadar pertunjukan seni tradisional atau hiburan semata. Ini adalah ruang belajar terbuka yang memungkinkan peserta didik untuk mengamati, berpartisipasi, dan menyerap nilai-nilai luhur warisan leluhur kita. Inilah kelas besar tanpa dinding yang menyatukan teori dengan praktik nyata kehidupan sehari-hari,” tegas Reno dengan penuh keyakinan.
Budaya sebagai Kurikulum Hidup yang Kontekstual dan Bermakna
Assoc Prof Dr Reno Renaldi menekankan bahwa acara seperti ini memberikan pembelajaran kontekstual yang tidak bisa digantikan oleh buku teks atau pembelajaran formal di ruang kelas. Melalui sejarah budaya Melayu di Riau, lomba pantun, pementasan tari tradisional, pameran kuliner khas Melayu, hingga lokakarya kerajinan tenun dan anyaman, para siswa diajak untuk mengasah kreativitas, melatih kemampuan kerja sama tim, membangun rasa percaya diri, sekaligus memahami filosofi dan makna mendalam di balik setiap tradisi budaya.
“Anak-anak belajar nilai sopan santun lewat tata cara berpantun yang penuh tata krama, melatih ketelitian dan kesabaran saat proses menenun kain tradisional, serta memahami konsep gotong royong dan kerja tim dalam persiapan pementasan seni. Semua ini merupakan kompetensi hidup yang sangat relevan di era modern yang serba cepat dan penuh tantangan,” jelas Reno secara rinci.
Penguatan Identitas Budaya dan Kebanggaan Daerah
Lebih jauh, Reno menggarisbawahi peran strategis Pekan Budaya Melayu Serumpun dalam memperkuat identitas budaya dan sejarah daerah. Salah satu momen bersejarah yang menjadi sorotan adalah saat pameran Harta Pusaka Melayu Riau yang dipajang kembali setelah 80 tahun tidak diperlihatkan ke publik. Koleksi harta pusaka dari masa pemerintahan Sultan Syarif Kasim II seperti mahkota kerajaan, pedang kesultanan, dan pin raja, menyimpan nilai budaya dan sejarah yang sangat tinggi.
Reno berharap generasi muda tidak hanya menjadi penikmat budaya, tetapi juga menjadi pewaris, pelindung, dan pengembang budaya Melayu agar tetap lestari.
“Dengan memahami akar dan sejarah budayanya, generasi muda akan memiliki pondasi kuat untuk menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur nenek moyang,” ujarnya penuh optimisme.
Integrasi Nilai Budaya dalam Sistem Pendidikan Formal
Dalam kesempatan ini, Reno juga mengajak seluruh sekolah, guru, dan tenaga pendidik untuk memanfaatkan momentum Pekan Budaya Melayu Serumpun dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya ke dalam kurikulum pembelajaran formal di sekolah. Ia memberikan contoh konkret, seperti guru bahasa yang dapat menggunakan pantun dan cerita rakyat sebagai media pembelajaran, guru IPS yang menjadikan pameran budaya sebagai studi lapangan yang menarik, serta guru seni yang mengadaptasi tarian dan musik tradisional sebagai bahan latihan praktis.
Dengan cara ini, pembelajaran akan menjadi lebih hidup, menyenangkan, dan kontekstual, sekaligus menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya lokal.
Reno juga mendorong terjalinnya kolaborasi erat antara sekolah dan komunitas budaya setempat, agar transfer ilmu dan nilai budaya tidak hanya terjadi di dalam ruang kelas, tetapi juga di tengah masyarakat luas. Keterlibatan aktif siswa dalam kegiatan budaya diyakini dapat menumbuhkan rasa memiliki, memperkaya wawasan, dan memperkokoh semangat persatuan dalam keberagaman.
Penutup: Harapan dan Apresiasi
Sebagai penutup, Assoc Prof Dr Reno Renaldi menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam kesuksesan Pekan Budaya Melayu Serumpun 2025 di Riau. Ia berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi contoh inspiratif bagi daerah-daerah lain di Indonesia.
“Melalui budaya, kita bukan hanya merayakan warisan leluhur, tetapi juga membentuk generasi masa depan yang berkarakter kuat, kreatif, dan bangga akan identitasnya. Semoga Pekan Budaya Melayu Serumpun menjadi tonggak penting dalam membangun bangsa yang berbudaya dan berdaya saing tinggi,” tutupnya dengan penuh harapan.





















