Kemeriahan Pekan Budaya Melayu Serumpun HUT ke-68 Riau

Perayaan HUT ke-68 Riau meriah dengan permainan tradisional, pameran Mahkota Sultan Siak, atraksi seni, dan kuliner khas Melayu.

Kemeriahan Pekan Budaya Melayu Serumpun HUT ke-68 Riau
Kemeriahan Pekan Budaya Melayu Serumpun Warnai HUT ke-68 Provinsi Riau: Permainan Tradisional, Pameran Mahkota Sultan Siak, hingga Panggung Seni Spektakuler

PEKANBARU – LINTASTIMURMEDIA.COM – Semarak kemeriahan HUT ke-68 Provinsi Riau memuncak di Arena Pekan Budaya Melayu Serumpun yang berubah menjadi pusat tumpah ruah masyarakat dari berbagai penjuru daerah. Sejak sore hari, ribuan warga memadati lokasi, menikmati hiburan rakyat sarat nuansa budaya, sejarah, dan kuliner khas yang memanjakan mata sekaligus lidah.

Suasana riuh penuh warna semakin hidup ketika berbagai permainan tradisional Melayu mulai dimainkan. Dari rimau, yeye, hingga enggrang, semua tersaji untuk mengajak pengunjung bernostalgia. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa antusias mencoba permainan tempo dulu yang kini kian jarang ditemui.

Salah satunya adalah Adinda Salsabila (19), warga Pekanbaru, yang tampak bersemangat menantang dirinya bermain enggrang — permainan khas yang menggunakan sepasang tongkat kayu dengan pijakan kaki di tengahnya, menuntut keseimbangan dan koordinasi yang prima.
“Awalnya agak takut jatuh, tapi ternyata seru banget,” ujarnya sambil tertawa, Sabtu (9/8/2025) di Jalan Sultan Syarif Kasim. Ia menambahkan, meski terlihat sederhana, enggrang mengajarkan kesabaran, fokus, dan keterampilan tubuh. “Rasanya seperti belajar berjalan dari awal lagi,” imbuhnya.


Pameran Pusaka Kesultanan Siak Jadi Magnet Pengunjung

Tak hanya permainan rakyat, arena pameran sejarah juga menjadi magnet ribuan pasang mata. Antrian panjang terlihat di depan area yang menampilkan Mahkota Sultan Siak, pin kerajaan, hingga pedang pusaka — koleksi berharga yang baru kembali dipamerkan tahun ini setelah merantau selama 80 tahun.

Bagi Teti Herliza (47), wanita kelahiran Siak, momen ini begitu mengharukan. Matanya berkaca-kaca saat berdiri di hadapan mahkota berlapis emas dan permata.
“Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Ini bukan sekadar perhiasan, tapi simbol jati diri dan kejayaan leluhur kami,” ucapnya lirih. Teti menegaskan, melihat benda pusaka secara langsung jauh lebih bermakna dibandingkan hanya melihat foto di internet. “Generasi kita harus menjaga warisan ini agar anak cucu masih bisa melihatnya.”

Kesamaan rasa kagum juga diungkapkan Gilang Fikri (26), pengunjung asal Kuantan Singingi. “Ternyata daerah kita kaya sejarah. Kalau tidak ada pameran seperti ini, mungkin saya belum tentu bisa melihat langsung benda-benda bersejarah bumi lancang kuning,” ujarnya.


Panggung Budaya: Dari Syair Melayu Hingga Melukis dengan Pasir

Di panggung utama, atraksi seni dan budaya tak henti-hentinya menghipnotis penonton. Pertunjukan Omok Siak memadukan gerak tradisional dengan narasi sejarah, disusul kolaborasi syair dan sastra lisan yang membawa pendengar larut dalam kisah rakyat Melayu.

Alunan musik Gambang Kromong menghadirkan perpaduan indah budaya Betawi dan Melayu, dilanjutkan tarian lokal yang memamerkan pesona wastra Riau. Puncaknya, Vina Candrawati membuat penonton terpesona dengan aksi live sand painting yang menggambarkan kehidupan, peradaban, dan persatuan Riau.

Tak kalah memikat, penyanyi Lady Rara yang terkenal dengan suara khasnya sukses mengajak ribuan penonton bernyanyi bersama. Sorot lampu panggung yang berkelip mengikuti irama musik menambah aura kemeriahan malam itu.


Kuliner Khas Riau: Mie Sagu hingga Otak-Otak Daun Pisang

Di sela pertunjukan, aroma menggoda dari puluhan stand kuliner menyambut setiap langkah pengunjung. Mie Sagu, otak-otak daun pisang, dan aneka kudapan khas Melayu laris diserbu.

Elvira Ninda (25), warga Kepulauan Meranti, mengaku rela menempuh perjalanan jauh demi hadir di acara ini. “Hiburan rakyat seperti ini penting untuk memperkenalkan pusaka dan kuliner khas Riau. Saya sudah coba Mie Sagu, rasanya luar biasa. Budaya Riau itu sangat kaya, sayang kalau sampai hilang,” tuturnya.


Pesan Kepala Dinas Pariwisata Riau

Kepala Dinas Pariwisata Riau sekaligus Ketua Panitia Pekan Budaya Melayu Serumpun, Roni Rakhmat, menegaskan bahwa acara ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana edukasi budaya dan penguatan identitas daerah.
“Kami hadirkan permainan rakyat, pameran pusaka, seni, dan kuliner sebagai ajang silaturahmi budaya serta mendukung ekonomi kreatif. Momentum HUT ke-68 Provinsi Riau ini menjadi ruang memperkenalkan tradisi kita kepada generasi muda sekaligus menjadikan budaya Melayu sebagai daya tarik wisata unggulan,” ujarnya.

Hingga larut malam, suasana tetap hidup. Ratusan kamera mengabadikan momen indah, sementara gelak tawa dan kebersamaan menjadi penutup hari yang akan dikenang lama. Pekan Budaya Melayu Serumpun 2025 pun sukses menjadi panggung yang mempertemukan sejarah, budaya, dan masa depan Riau dalam satu perayaan gemilang.